Anak Belajar dari Apa yang Dilihat: Refleksi Islamic Parenting di Era Modern
oleh PIAUD | 20 Jul 2026
"Anak adalah cermin dari lingkungan yang membesarkannya. Sebelum mengajarkan kebaikan kepada anak, orang tua harus terlebih dahulu menghadirkan kebaikan dalam dirinya." Ada sebuah kenyataan sederhana dalam kehidupan keluarga: anak sering kali lebih cepat meniru daripada mendengar. Ketika orang tua berbicara dengan lembut, anak belajar kelembutan. Ketika orang tua menunjukkan kesabaran, anak belajar mengendalikan diri. Namun, ketika orang tua mudah marah, berkata kasar, atau sibuk dengan dunianya sendiri, anak pun belajar hal yang sama tanpa pernah diajarkan secara langsung. Inilah alasan mengapa pengasuhan anak tidak cukup hanya dengan memberikan nasihat. Anak usia dini bukanlah individu yang memahami dunia hanya melalui kata-kata, tetapi melalui pengalaman yang mereka lihat, rasakan, dan jalani setiap hari. Dalam perspektif Islam, mendidik anak bukan sekadar kewajiban sosial, tetapi bagian dari amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Anak bukan hanya seseorang yang harus diberi makan, disekolahkan, dan dipenuhi kebutuhannya, tetapi manusia yang membutuhkan bimbingan agar tumbuh dengan iman, ilmu, dan akhlak. Menurut pandangan penulis, tantangan terbesar dalam pengasuhan saat ini bukan karena orang tua tidak mencintai anaknya, tetapi karena banyak orang tua lupa bahwa cinta membutuhkan kehadiran. Kasih sayang tidak hanya diberikan melalui fasilitas, tetapi juga melalui waktu, perhatian, komunikasi, dan keteladanan. Islamic parenting hadir sebagai sebuah konsep pengasuhan yang tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga pada proses. Anak tidak hanya diarahkan agar menjadi pintar, tetapi dibimbing agar memiliki karakter yang baik. Sebab dalam ajaran Islam, kecerdasan tanpa akhlak dapat kehilangan arah, sedangkan ilmu yang disertai nilai kebaikan akan menjadi cahaya bagi kehidupan. Sering kali orang tua merasa telah mendidik anak ketika mereka memberikan banyak aturan. Anak harus belajar, harus patuh, harus berprestasi, dan harus mengikuti berbagai tuntutan orang dewasa. Namun, terkadang kita lupa bertanya: apakah anak memahami makna dari semua aturan tersebut? Apakah mereka merasa dicintai dalam proses pendidikan itu? Islamic parenting mengajarkan bahwa mendidik anak bukan hanya tentang mengendalikan perilaku, tetapi membangun kesadaran. Anak perlu memahami mengapa ia harus berkata jujur, mengapa ia harus menghormati orang lain, dan mengapa ia harus berbuat baik meskipun tidak ada yang melihat. Nilai-nilai tersebut tidak cukup ditanamkan melalui ceramah, tetapi melalui kebiasaan dan keteladanan. Anak yang melihat orang tuanya menjaga salat, menghormati sesama, meminta maaf ketika salah, dan bersikap sabar akan lebih mudah memahami makna akhlak dibandingkan anak yang hanya menerima perintah. Penulis meyakini bahwa rumah adalah tempat pertama seorang anak mengenal Tuhan, manusia, dan kehidupan. Sebelum anak belajar dari buku, mereka belajar dari sikap orang tua. Sebelum mereka memahami konsep kebaikan, mereka terlebih dahulu merasakan bagaimana kebaikan itu hadir dalam keluarganya. Di era digital saat ini, tantangan pengasuhan menjadi semakin kompleks. Anak tumbuh di tengah derasnya informasi, perubahan budaya, dan perkembangan teknologi yang begitu cepat. Orang tua tidak cukup hanya membatasi penggunaan teknologi, tetapi juga harus membangun kedekatan emosional agar anak memiliki pegangan nilai yang kuat. Anak yang mendapatkan perhatian dan komunikasi yang baik dari keluarga akan memiliki kemampuan lebih besar dalam menghadapi berbagai pengaruh lingkungan. Sebaliknya, anak yang kehilangan ruang dialog dalam keluarga dapat mencari jawaban dari berbagai sumber yang belum tentu sesuai dengan nilai yang diharapkan. Karena itu, Islamic parenting bukan berarti menjauhkan anak dari perkembangan zaman, tetapi membekali mereka dengan nilai agar mampu menghadapi zaman. Anak perlu dikenalkan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kreativitas, tetapi tetap memiliki akar nilai agama dan akhlak. Dalam pendidikan anak usia dini, hal-hal sederhana justru menjadi fondasi besar bagi perkembangan anak. Membiasakan anak mengucapkan salam, mengajarkan rasa syukur, melatih kepedulian, menghargai orang lain, dan membangun kebiasaan baik merupakan bentuk pendidikan yang akan melekat sepanjang kehidupan mereka. Pada akhirnya, keberhasilan pengasuhan tidak hanya diukur dari seberapa tinggi prestasi anak, tetapi dari seberapa kuat karakter yang mereka miliki. Anak yang memiliki ilmu dan akhlak akan lebih siap menghadapi kehidupan dengan penuh tanggung jawab. Islamic parenting bukan tentang menciptakan anak yang sempurna, karena kesempurnaan bukan milik manusia. Islamic parenting adalah tentang menghadirkan proses pengasuhan yang penuh cinta, nilai, dan keteladanan agar anak tumbuh menjadi manusia yang bermanfaat bagi dirinya, keluarganya, dan masyarakat. Sebab, anak tidak hanya membutuhkan orang tua yang menunjukkan jalan menuju keberhasilan, tetapi juga membutuhkan orang tua yang menemani perjalanan mereka dengan kasih sayang dan doa. (Oleh: Ulya Ainur Rofi'ah, M.Pd)