Ketika Kampus Dipaksa Tunduk pada Pasar, Siapa yang Akan Menyelamatkan Pendidikan?
oleh PIAUD | 29 Apr 2026
"Kemdiktisaintek bakal menutup program studi yang dianggap kurang relevan dengan arah kebutuhan pertumbuhan ekonomi Indonesia." Pernyataan yang diberitakan oleh Detik.com tersebut memantik diskusi luas di kalangan akademisi, dosen, mahasiswa, dan pemerhati pendidikan. Di satu sisi, kebijakan ini dipahami sebagai upaya menyesuaikan pendidikan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan mendasar yang perlu direnungkan bersama "apakah relevansi sebuah program studi hanya dapat diukur dari tingkat serapan kerja dan kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi?" Cara pandang semacam ini berisiko mempersempit makna pendidikan tinggi menjadi sekadar penyedia tenaga kerja bagi industri. Perguruan tinggi seolah hanya dinilai dari seberapa cepat lulusannya mendapatkan pekerjaan, bukan dari kontribusinya dalam membangun ilmu pengetahuan, kebudayaan, karakter bangsa, maupun peradaban manusia. Jika logika pasar dijadikan satu-satunya ukuran, maka kampus perlahan akan kehilangan fungsi utamanya sebagai ruang berpikir kritis, ruang lahirnya gagasan baru, dan ruang pembentukan manusia yang utuh. Sejarah menunjukkan bahwa banyak bidang ilmu yang pada awalnya dianggap tidak memiliki nilai ekonomi tinggi, tetapi justru menjadi fondasi kemajuan masyarakat. Ilmu pendidikan, filsafat, sastra, sejarah, hingga ilmu-ilmu keagamaan mungkin tidak selalu berada dalam daftar profesi dengan gaji tertinggi, namun tanpa kehadiran bidang-bidang tersebut, bangsa akan kehilangan arah moral, identitas budaya, dan kualitas manusianya. Negara yang maju bukan hanya karena memiliki teknologi yang canggih, melainkan juga karena memiliki manusia yang berkarakter, beretika, dan mampu hidup berdampingan secara harmonis. Dalam konteks inilah Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) perlu dilihat dengan perspektif yang lebih luas. Selama ini, program studi kependidikan sering kali dinilai kurang menarik karena tidak menjanjikan keuntungan ekonomi yang besar seperti bidang-bidang yang sedang menjadi tren. Padahal, jika berbicara tentang pembangunan sumber daya manusia, PIAUD justru berada pada titik paling fundamental. Mahasiswa PIAUD tidak sekadar belajar mengajar anak-anak, tetapi mempelajari bagaimana membangun fondasi perkembangan kognitif, bahasa, sosial, emosional, moral, spiritual, hingga karakter anak pada masa emas kehidupannya. Ironisnya, banyak pihak baru berbicara tentang kualitas sumber daya manusia ketika seseorang telah memasuki perguruan tinggi atau dunia kerja. Padahal, berbagai kemampuan yang dibutuhkan pada abad ke-21 seperti kreativitas, kemampuan berkomunikasi, kolaborasi, empati, daya tahan mental, dan karakter mulai dibentuk sejak usia dini. Ketika bangsa ini menginginkan generasi yang inovatif dan mampu bersaing secara global, maka perhatian terhadap pendidikan anak usia dini seharusnya menjadi prioritas, bukan justru dipandang sebagai bidang yang kurang relevan. Di era kecerdasan artifisial (AI), relevansi PIAUD bahkan semakin kuat. Teknologi mungkin mampu menggantikan banyak pekerjaan teknis, tetapi teknologi tidak dapat menggantikan sentuhan kasih sayang, keteladanan, pembentukan karakter, maupun proses penanaman nilai yang terjadi pada masa kanak-kanak. Dunia mungkin membutuhkan lebih banyak ahli teknologi, tetapi dunia juga membutuhkan manusia yang memiliki empati, etika, kemampuan bekerja sama, dan kesadaran moral. Semua itu berakar dari pendidikan usia dini yang berkualitas. Karena itu, ketika sebuah program studi dinilai hanya berdasarkan angka serapan kerja atau kebutuhan industri jangka pendek, kita perlu berhati-hati agar tidak terjebak pada cara berpikir yang terlalu sempit. Dunia kerja dapat berubah dalam hitungan tahun, tetapi dampak pendidikan berlangsung lintas generasi. Profesi yang hari ini dianggap sangat dibutuhkan bisa jadi tidak lagi relevan beberapa dekade mendatang. Namun kebutuhan akan pendidik yang membentuk manusia sejak masa kanak-kanak akan selalu ada selama peradaban masih berjalan. Yang dibutuhkan saat ini bukanlah sekadar menutup program studi yang dianggap kurang diminati atau kurang menguntungkan, melainkan melakukan revitalisasi, penguatan kualitas, dan pemetaan kebutuhan jangka panjang bangsa. Sebab tugas perguruan tinggi bukan hanya memenuhi kebutuhan pasar hari ini, tetapi juga mempersiapkan masa depan yang bahkan belum sepenuhnya dapat diprediksi. Kampus yang hanya mengikuti pasar akan selalu tertinggal satu langkah. Sebaliknya, kampus yang kuat adalah kampus yang mampu menciptakan arah baru bagi masyarakat. Bagi PIAUD, isu ini bukan sekadar tentang keberlangsungan sebuah program studi, melainkan tentang bagaimana bangsa memandang investasi paling mendasar dalam pembangunan manusia. Kita sering berbicara tentang bonus demografi, Indonesia Emas 2045, dan daya saing global. Namun semua cita-cita tersebut sesungguhnya dimulai dari ruang-ruang kelas anak usia dini, dari tangan para guru yang mendampingi tumbuh kembang anak, dan dari para lulusan PIAUD yang bekerja membangun fondasi generasi masa depan. Pada akhirnya, sebuah bangsa tidak dapat bertahan hanya dengan tenaga kerja yang terampil. Bangsa juga membutuhkan guru yang mendidik, peneliti yang berpikir, budayawan yang menjaga identitas, dan akademisi yang merawat nilai-nilai kemanusiaan. Jika pendidikan tinggi hanya dinilai dari kontribusi ekonominya, maka kita mungkin akan menghasilkan lebih banyak pekerja. Namun jika pendidikan tinggi tetap dihargai sebagai sarana membangun manusia dan peradaban, maka kita akan melahirkan generasi yang bukan hanya siap bekerja, tetapi juga siap memimpin masa depan. Sebab sebelum ada insinyur, dokter, pengusaha, ilmuwan, maupun pakar kecerdasan artifisial, ada anak-anak yang perlu dididik dengan baik. Dan di situlah PIAUD bekerja membangun fondasi peradaban jauh sebelum hasilnya terlihat oleh dunia. [oleh:Ummidlatus Salamah, S.S., M.Pd]