Krisis Terbesar Anak Indonesia Bukan Gadget, Tetapi Kurangnya Kehadiran Orang Dewasa
oleh PIAUD | 02 Jun 2026
Ketika seorang anak menangis, sebagian orang tua memberikan gawai. Ketika anak rewel di restoran, diberikan video YouTube. Ketika anak bosan di rumah, diberikan ponsel. Ketika anak sulit makan, kembali diberikan layar. Lama-kelamaan gadget menjadi "pengasuh kedua" dalam keluarga. Banyak orang tua kemudian menyalahkan teknologi atas menurunnya kemampuan sosial anak, rendahnya konsentrasi belajar, hingga meningkatnya perilaku tantrum. Padahal persoalan utamanya bukanlah gadget. Persoalan terbesar anak-anak hari ini adalah semakin berkurangnya kehadiran orang dewasa dalam kehidupan mereka. Anak usia dini tidak membutuhkan teknologi tercanggih. Mereka membutuhkan tatapan mata yang penuh perhatian, pelukan yang menenangkan, cerita sebelum tidur, dan waktu bermain bersama orang-orang yang mereka cintai. Sayangnya, di era modern, banyak orang tua hadir secara fisik tetapi tidak hadir secara emosional. Duduk bersama anak, namun sibuk dengan ponsel. Mendengar suara anak, tetapi tidak benar-benar mendengarkan cerita mereka. Kondisi ini melahirkan generasi yang mungkin sangat akrab dengan teknologi, tetapi asing dengan kehangatan hubungan manusia. Di sinilah peran strategis PIAUD menjadi semakin penting. Guru PIAUD bukan sekadar mengajarkan huruf dan angka. Mereka menjadi figur yang mendengarkan, memahami, dan membersamai tumbuh kembang anak. Mereka membantu anak belajar mengelola emosi, membangun kepercayaan diri, menghargai teman, serta mengenal nilai-nilai kehidupan. Penelitian demi penelitian menunjukkan bahwa kualitas interaksi antara anak dan orang dewasa memiliki pengaruh yang jauh lebih besar terhadap perkembangan anak dibandingkan jumlah mainan atau kecanggihan teknologi yang dimiliki. Anak-anak tidak akan mengingat merek gadget yang pernah mereka gunakan. Namun mereka akan mengingat siapa yang menemani mereka ketika takut, siapa yang memuji usaha mereka, dan siapa yang membuat mereka merasa dicintai. Masa depan anak Indonesia tidak hanya ditentukan oleh perkembangan teknologi, tetapi juga oleh kualitas hubungan yang mereka miliki dengan orang dewasa di sekitarnya. Karena itu, mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya, "Berapa lama anak menggunakan gadget?" Dan mulai bertanya: "Berapa lama kita benar-benar hadir untuk mereka?" Sebab bagi anak usia dini, kehadiran adalah bentuk cinta yang paling nyata. Dan cinta adalah fondasi pertama pendidikan. [oleh: Ulya Ainur Rofiah, M.Pd]